CERITA MYSTIC

Penumpang Gelap

Pengalaman ini saya alami pada tahun 1993. Waktu itu saat dimana saya menjadi panitia Ospek mahasiswa baru FS UI (Sekarang namanya berganti menjadi FIB UI). Sebenarnya saya berencana untuk menginap di kampus seperti Panitia lainnya, namun karena ada barang yang tertinggal dirumah teman saya, kami berencana mengambilnya dan balik ke kampus malam itu juga.

Jam mobil saya menunjukan pukul 12.30 malam. Kami berdua masuk ke dalam mobil dan mengarah langsung keluar kampus. Pada tahun 1993, UI, dan jalan sepanjang Lenteng Agung dan Tanjung Barat tidak seperti sekarang, sangat sepi dan gelap. Tidak ada bangunan-bangunan besar disepanjang jalan seperti saat ini. Masih banyak pepohonan lebat dan ada kuburan di sebelah kiri jembatan kecil.

Setelah kami mengambil jalan belok ke kiri dari Gerbatama UI, kami melewati jalan lama yang berkelok melewati jembatan. Pada tahun 1993 belum ada jalan tembus dari Gerbatama ke Universitas Pancasila. Saya menyalakan lampu besar karena sangat gelap sekali. Pada saat ingin melewati jembatan, Terdapat sesosok kuntilanak yang sedang duduk di bahu jembatan.

Teman saya berkata.

“Jo, lu liat kuntilanak lagi duduk nggak barusan?”

Saya hanya terdiam, merinding ketakutan. Saya melihat juga apa yang dilihat oleh teman saya itu. Namun lebih dari itu, ketika teman saya mengatakan hal tersebut saya melihat ke spion belakang. Celaka! Kuntilanak Tersebut duduk di kursi belakang mobil kami.

Saya-pun menelan ludah, gemetar dan tidak berani lagi untuk melihat ke arah spion.

Dalam hati saya berkata kepada kuntilanak itu.

“Kalau lu mau nebeng ikut, silahkan aja tapi jgn ganggu kita”

Ketika saya mengatakan hal tersebut teman saya baru sadar dan terlihat gugup. Kami berdua tidak ada yang berani untuk mengatakan apapun, terus terdiam sepanjang perjalanan.

Sepanjang perjalanan diiringi pohon-pohon besar, jalanan yang gelap dan sepi sekali saya terus mengemudi dan dipenuhi oleh bayang-bayang kuntilanak di kursi belakang. Saya tidak tahu apakah dia masih menumpang dibelakang atau tidak. Tapi batin saya merasakan bahwa ia masih, masih duduk dibelakang dan mengintai setiap gerak-gerik kami. Anehnya selama perjalanan dari saya bertemu dengan kuntilanak, saya tidak menemukan satupun mobil yang berjalan ke arah sama dengan kemana kami pergi.

Akhirnya ketika kami sampai di Pasar Minggu, hawa mistis dari penumpang belakang sudah hilang, karena jalanan sudah mulai ditemukan orang-orang dan mobil-mobil lain di daerah Pasar. Saya pun memberanikan diri untuk melihat ke spion belakang dan ternyata benar kuntilanak tersebut sudah turun entah dimana. Saya pun bercanda untuk mengubah suasana dalam mobil yang horror.

“Sialan itu Kunti, udh nebengnya diam-diam lalu turun kaga bayar ongkos lagi…!!”

Kami berduapun tertawa. Setelah kami sampai dirumah teman saya, kami memutuskan untuk tidak kembali ke kampus hingga fajar menyingsing.

Yang kukira istriku ternyata…

U ndangan berwarna biru dengan tulisan warna emas yang tercetak rapi, tergeletak diatas meja makan. Hal tersebut mendorongku untuk segera membuka dan membacanya walaupun perutku sudah berbunyi keroncongan minta diisi.

Isteriku berkata  ” Mas, Itu undangan dari Jakarta untuk hari Sabtu depan. Itu lho, Bu Kuncoro yang di Cikini mantu, kita datang ya !, kan salah satu famili dekat “. Sambil membaca kartu undangan itu aku manggut-manggut tidak menyahuti kata-kata isteriku.

Isteriku membujuk lagi dengan berkata : ” Maas, kan sudah beberapa bulan ini kita tidak ke-Jakarta, aku sudah kangen dengan keluargaku, pasti semua datang ke-pestanya “, disambung dengan rayuannya lagi  ” Sekali-sekali pergi menghilangkan stress khan boleh. Jakarta dekat ini, ya Mas, ya…. “. Setelah menyelesaikan membaca undangan itu Aku kemudian menatap Isteriku dan mengangguk-kan kepala tanda setuju sambil tanganku meraih sendok dan segera menyantap makan malam.

Isteriku melonjak kegirangan dan berteriak kepada putri kami yang tiga bulan lagi berumur dua tahun  ” Nanda, nanti kita jalan-jalan ke Jakarta sama Papa”.

Tak terasa hari Sabtu-pun tiba dan dan putriku Nanda sudah tiga kali menanyakan kapan akan berangkat jalan-jalan seperti yang dijanjikan oleh Ibunya. Setelah menaikkan semua tas dan perlengkapan keatas mobil, kamipun berangkat dari Bandung menuju Jakarta.

AWALNYA

Sejak kawin tiga tahun yang lalu, kami pindah dari Jakarta dan menetap di Bandung karena tugas dari kantor-ku. Kami tinggal dirumah kontrakan yang tidak terlampau besar dan beruntung mendapat fasilitas kendaraan berupa mobil dari kantor sehingga kadang-kadang kami bisa pergi bertamasya ketempat-tempat rekreasi dengan menggunakan mobil kantor, seperti saat ini.

Udara pagi yang sejuk terhisap memasuki paru-paru menimbulkan suasana yang tenang dan menggembirakan, pemandangan dikiri-kanan jalan sangat indah, apalagi lepas dari Cianjur mendekati Puncak. Putri-ku Nanda tak henti-hentinya bertanya ini-itu mengenai hal-hal baru yang dilihatnya dan rasa senangnya karena diajak naik mobil pergi bertamasya.

TELAGA WARNA PUNCAK

Setibanya di Puncak, Isteriku menyarankan dan berusaha membujuk-ku untuk berhenti sebentar beristirahat di Telaga Warna Puncak menikmati udara sejuk nan menyegarkan. � Kalau saja aku bisa mengetahui peristiwa menggetarkan hati yang kelak akan terjadi, pasti akan kutolak mentah-mentah permintaan Isteriku itu……… ‘

Aku meminggirkan mobil dan parkir di-kawasan Telaga Warna, Isteriku menarik-narik tanganku sambil membimbing Nanda kearah tepi telaga dan duduk dengan santai sambil tak henti-hentinya mengoceh. Nanda dan aku mendengarkan dengan asyik.

Ia menceritakan berbagai hal menarik yang akan dilakukannya di Jakarta dan keinginan-keinginannya setibanya nanti di-Jakarta, juga pesta perkawinan yang pasti akan sangat meriah yang akan kami hadiri dan belanja oleh-oleh kesukaannya saat akan pulang ke Bandung. Tak terasa waktu berlalu dengan cepat, setelah puas menikmati keindahan disekitar telaga, kemudian kami-pun meninggalkan Telaga Warna dan melanjutkan perjalanan ke Jakarta.

Saat itu, jalan tol Jakarta-Bogor-Ciawi sedang dalam proses pembuatan dan belum selesai, sehingga untuk ke-Jakarta masih harus melalui jalan Bogor lama.

Setibanya di-Bogor, Isteriku meminta mampir di-toko roti terbesar di Bogor saat itu untuk membeli roti dan penganan pengisi perut selama perjalanan. Nanda kecapean dan terlihat tidur dengan lelapnya di Jok belakang, dan aku malas untuk turun, jadi Isteri-ku turun sendirian dan pergi masuk ke-toko roti tersebut untuk berbelanja.

Aku menunggu dimobil bersama Nanda yang tertidur pulas…….

ISTERIKU DENGAN PARFUM BAU KEMBOJA

Sekejap kemudian terlihat sesosok wanita yang persis berwujud Isteriku mengenakan pakaian seperti yang dipakai Isteriku sambil membawa bungkusan besar berisi roti dan makanan lainnya datang mendekat kemobil. Tentu saja segera kubukakan pintu mobil karena kusangka Isteriku. Saat ia masuk kemobil sekilas tercium bau bunga kamboja bercampur menyan yang membuat bulu kudukku berdiri.

Akan tetapi karena melihat wajah Isteriku yang berseri-seri dan berkata bahwa ia telah membelikan beberapa roti kesukaanku maka aku segera melupakan hal aneh yang muncul bersamaan dengan kedatangan Isteriku ini.

Mobil ku-stater dan kemudian meluncur pergi dari toko roti di-Bogor guna melanjutkan perjalanan ke-Jakarta. Sayangnya mataku kurang jeli, sehingga tidak melihat bahwa beberapa detik sebelum mobil keluar dari area toko roti, Isteriku yang asli muncul dipintu toko dengan membawa bungkusan besar berisi roti dan melihat mobilku meluncur pergi dengan membawa wanita lain.

ISTERI ASLIKU MARAH BESAR

Isteriku marah besar dan mengira bahwa aku telah pergi (lari) meninggalkannya dengan membawa wanita lain, seketika itu juga dibantingnya bungkusan hasil belanjaanya dan dengan air mata bercucuran kemudian lari pulang ke-Bandung. Hatinya dipenuhi dengan emosi, cemburu, marah, sedih dan kesal bercampur jadi satu. Mulutnya membisikkan kata-kata ancaman yang lirih   ” Awas kalau pulang nanti “, berkali-kali tanpa henti sepanjang perjalanan kembali ke-Bandung.

Fikirannya yang dipenuhi rasa marah dan cemburu, terus bertanya-tanya, siapakan wanita yang menjadi simpanan suaminya itu dan telah pergi bersama suaminya ?. Mengapa dirinya ditinggalkan begitu saja tanpa menengok sedikitpun, sungguh tak berperasaan. Bagaimana dengan anaknya Nanda, apakah dia sedang menangis menanyakan ibunya atau sedang apa ?, jahat sekali suaminya itu, akh kalau saja tahu hati suaminya seculas itu, tak akan mau dia diperistri bila hanya untuk disakiti hatinya. Rasa benci menyeruak di-hatinya yang sedih dan luka bagai tertusuk sembilu.

Sesampainya dirumah langsung ia membanting dirinya keatas tempat tidur dan menangis tersedu-sedu sambil tak henti-hentinya mengeluarkan ancaman……..

ISTERIKU BERMANJA-MANJA KEPADAKU

Sementara itu tidak sedikitpun terlintas difikiranku mengenai keadaan Isteriku itu dirumah, malah aku terlibat dengan pembicaraan yang romantis dengan wanita yang kukira Isteriku ini. Selama dalam perjalanan  ini aku sangat menikmatinya, karena tidak tahu kenapa istriku bertambah-tambah genit dan manja-nya terhadapku, hingga beberapa kali pipiku diciumnya mesra yang membuat hatiku semakin berbunga-bunga.

Isteriku ini kemudian merapatkan duduknya dan merebahkan kepalanya kepundakku dan berkata  ” Maas, kalau bisa aku ingin peristiwa ini jangan cepat berlalu “. Aku berfikir sambil membathin, lho ini khan  masih awal dan masih banyak lagi waktu sesampaimya di Jakarta nanti. Sewaktu rambutnya menyentuh pipiku, saat itu kembali sekilas tercium bau wangi bunga kamboja bercampur menyan, sehingga bulu kudukku berdiri lagi. Ihh……. Dalam hati aku berjanji  membelikan shampo luar negeri untuk isteriku, karena bau wangi shampo yang ia gunakan sekarang ini menimbulkan rasa takut dihatiku.

 

SETIBA DI JAKARTA

Akhirnya setelah tiba di Jakarta, Aku langsung menuju ke hotel yang terdekat dari Cikini, dan memesan kamar untuk satu malam, karena ingin beristirahat sejenak menjelang resepsi malam nanti. Nanda sangat senang dan bernyanyi-nyanyi kecil dengan lucunya sambil menyentuh barang-barang hiasan yang ada dikamar hotel. Lagaknya bagai kupu-kupu yang terbang mengitari bunga-bunga yang sedang mekar mewangi.

Sore hari, setelah memandikan Nanda, Isteriku mengajak mandi bersama, ini sebetulnya diluar dari kebiasaannya, tapi tentu saja aku mau, permintaan seperti ini jelas nggak akan kutolak. Didalam kamar mandi, isteriku mesra berbisik meminta hubungan intim, awalnya aku kurang setuju, tapi dengan sangat ahli ia membangkitkan hasrat kelaki-lakianku……

Koper dibuka dan pakaian-pakaian didalamnya dicoba dan dipatut-patutkan ke tubuhnya sambil bergaya didepan kaca, hingga akhirnya ia memutuskan menggunakan baju warna hijau yang memang serasi dengan warna kulitnya yang putih.

A CARA RESEPSI BERLANGSUNG MERIAH

Acara resepsi pernikahan putra Bu Kuncoro sangat meriah dan memang banyak keluarga datang, tentu saja bagaikan reuni keluarga besar, kami saling bertanya dan bercerita situasi terakhir dalam keluarga dengan gembira. Beberapa kali Nanda datang kepadaku minta dibersihkan pipinya yang berwarna merah bekas lipstik karena dicium gemas oleh tante-tantenya. Saat foto bersama, mulanya Isteriku menolak keras, tapi setelah didesak-desak akhirnya mau juga. Beberapa famili mengajak kami bermalam dirumah mereka tapi dengan halus kutolak karena sebelumnya sudah memesan kamar dihotel.

Akhirnya acara resepsipun usai sudah dan satu demi satu para tamu pamit pulang, demikian juga kami. Dalam perjalanan kembali ke hotel terlihat sekali isteriku sangat bahagia karena celotehnya yang sangat bersemangat mengenai suasana resepsi tadi, dimana aku hanya mendengar dan meng-iyakan ucapan-ucapannya saja.

 

 

BER GAIRAH DAN MENGAJAK BERCINTA

Nanda terlihat kelelahan dan segera tertidur pulas begitu kepalanya menyentuh bantal tempat tidurnya, melihat putrinya telah tertidur. Isteriku melepaskan pakaian pestanya satu demi satu sambil menggerakkan tubuhnya dengan erotis, berusaha memancing gairahku, dan setelah terlepas semuanya langsung menerkam diriku dan mengajak bercinta.

Malam itu entah beberapa kali hubungan intim telah kami lakukan hingga rasanya tulang-tulangku hampir terlepas karena kelelahan melayani hasratnya yang tak pernah padam, sehingga saat matahari telah tinggi kami masih tertidur kelelahan.

Lewat tengah hari baru kami berangkat pulang ke Bandung. Perjalanan pulang agak lambat karena kami banyak berhenti untuk belanja oleh-oleh, lagi pula aku menjalankan kendaraan perlahan karena masih agak mengantuk. Nanda sepanjang jalan kembali tertidur pulas, mungkin karena masih kelelahan, sekilas terlihat senyum manis dibibirnya.

KEMBALI KE TELAGA WARNA

Menjelang Maghrib saat mobil mendekati Puncak, Isteriku mendesak untuk berhenti sebentar agar kembali beristirahat di Telaga Warna, aku menolak karena perjalanan masih jauh lagipula sudah menjelang Maghrib. Tapi karena ia terus bersikeras dengan bujukan dan alasan yang kadang menurutku sulit diterima akal, maka akhirnya aku mengalah dan memarkir mobil di kawasan Telaga Warna. Saat itu suasana masih agak terang.

Nanda, walaupun sudah terbangun tapi masih menggeliat malas untuk berjalan, sehingga kubopong turun mengikuti isteriku ke tepi telaga, setelah duduk suasana menjadi santai, Isteriku berkata dengan serius kepadaku, bahwa perjalanan ini tak akan pernah dilupakannya dan Ia mencium pipiku berkali-kali guna lebih menguatkan kata-katanya. Kelakuannya ini ku-rasakan agak aneh seakan dia tidak akan pernah bertemu denganku lagi……..

MENGAPA “DIA” TERJUN KE TELAGA ?

Saat terdengar Adzan Maghrib mendayu-dayu, tiba-tiba dengan tak tersangka-sangka Isteriku menerjunkan dirinya kedalam Telaga Warna, tentu saja aku terkejut setengah mati apalagi mendengar putriku berteriak histeris dan kemudian menangis meraung-raung memanggil-manggil ibunya, ” Mamaaaa……maama…”

Setelah menunggu beberapa saat dan tidak muncul juga dari dalam telaga, maka akupun berteriak-teriak memanggil namanya dan langsung terjun kedalam air telaga untuk mencari Isteriku, beberapa orang berkumpul melihat kelakuanku yang aneh, kucoba menjelaskan peristiwa yang terjadi dengan suara terbata-bata dan tubuh gemetar kebingungan, beberapa orang kemudian tergerak untuk ikut terjun berusaha mencari isteriku didasar telaga. Beberapa wanita yang ada berusaha membujuk mendiamkan putriku yang terus menangis.

 

Setelah mengobak seluruh telaga selama lebih dari dua jam dibantu oleh banyak orang tanpa hasil. Dengan baju basah kuyup dan tubuh menggigil kedinginan serta  perasaan yang tak menentu karena sangat sedih, maka akupun memutuskan untuk kembali ke Bandung dan berniat untuk melakukan pencarian lanjutan esok pagi. Apalagi Nanda  terus menangis memanggil-manggil ibunya yang telah terjun kedalam telaga dan tidak berhasil ditemukan. Saat itu fikiranku terus bertanya-tanya ” Mengapa Istriku tega sampai berbuat begitu ? Apa salahku ?…. setelah begitu lama tidak muncul dari dalam air apakah mungkin ia telah mati !!…….

 

PULANG KERUMAH DI BANDUNG

Aku menjalankan mobil pulang ke Bandung sambil ngebut agar cepat sampai di rumah, dan berniat untuk mengabari saudara-saudaraku perihal Istriku, agar mereka esok membantu dalam upaya pencarian. Dengan perasaan sangat sedih dan terpukul atas musibah ini, akupun masuk kedalam rumah dan……….

Mendengar suara mobil memasuki rumahnya, Isteriku yang masih belum tidur, bangun dan meloncat mengintip dari jendela kamar, mengetahui bahwa suaminya pulang, timbullah lagi rasa marah atas perbuatan suaminya yang disangkanya pergi meninggalkan dia sendirian ditoko roti di-Bogor bersama wanita yang tidak dikenalnya.

Diambilnya sepatu hak tingginya dan berlari ke pintu depan……..

Betapa terkejutnya aku ketika membuka pintu depan, sepasang sepatu hak tinggi mendarat telak dikepalaku, dan pelakunya tak lain adalah ternyata isteriku………

Wajahku pucat pasi kaget setengah mati, bahkan aku ketakutan bagai melihat hantu, sehingga tak terasa sakitnya kepalaku yang benjol-memar karena terlempar sepatu. Bagaimana mungkin isteriku yang hilang tenggelam di Telaga Warna ternyata malah sekarang muncul dihadapanku dengan wajah marah menakutkan dan suara menggelegar keras, mengumpat dan memaki. Dengan terpana-bengong dan perasaan tak karuan, aku cuma bisa berdiri mematung didepan pintu. Istriku masih terus melemparkan segala macam benda kearahku sambil memaki-maki. Nalarku masih kacau belum jalan, aku tak berusaha menghentikannya, masih bingung.

” Ka..kaau …ternyata masih hidup, kukira sudah mati tenggelam “, kataku ketakutan dan dengan suara terbata-bata. Setelah mendengar kata-kataku, dan melihat keadaan diriku yang kacau, Isteriku malah bingung, apalagi kemudian Nanda menghambur masuk dan memeluk ibunya sambil berteriak keras : ” Mama… jangan lompat lagi ke danau, Nanda takuuut “. Terkejut Isteriku sehingga terlupakan kemarahannya, dan matanya melotot menatap kearahku minta penjelasan, sambil mendekap Nanda yang menangis sesenggukan dipelukannya.

 

Aku sendiri masih belum bisa mencerna dengan baik atas situasi yang tak terduga-duga ini dan terpaku keheranan. Melihat aku tidak memberikan jawaban, timbullah lagi marahnya dan berteriak keras mengejutkanku  ” Mengapa kau tinggalkan aku sendirian di Bogor, dan siapa wanita sialan itu ! “. Fikiranku berusaha menyimak kata-katanya, … ditinggal di Bogor ?, siapa wanita itu ? apa yang terjadi ? bukankah aku pergi dengannya ke Jakarta ? lalu siapa kalau begitu wanita yang menyerupai dirinya dari Bogor hingga terjun ke telaga ?

BARU KUSADARI BAHWA YANG BERSAMAKU ITU BUKAN ISTERIKU

Tiba-tiba aku berteriak keras : ” Tidaaaaaaak ! “, ” Aku tidak tahu bahwa itu bukan kau !,  mahluk itu menyerupai kau kukira itu kau ” lanjutku keras. Kemudian aku memeluknya dan berkata dengan penuh perasaan : ” Syukurlah bahwa kau masih hidup, kukira sudah matiiiii ! ”

Karena aku memeluknya seakan takut kehilangan dirinya, cairlah emosinya dan tenang, kemudian meminta penjelasan lengkap dariku.

Kujelaskan kronologis kejadiannya, tentu saja dengan menyembunyikan bagian hubungan intimku dengan mahluk itu, tak percaya Isteriku atas ceritaku yang tak masuk diakalnya, untuk lebih meyakinkannya kuajak dirinya untuk menelepon interlokal ke Jakarta.

 

JADI YANG BERSAMAKU ITU MAHLUK JEJADIAN ?

Terkejut Pamannya mengetahui kejadian ini, atas permintaanku dan keingin-tahuannya atas peristiwa yang terjadi ini, esok harinya dengan kereta-api terpagi segera ia berangkat ke Bandung.

Pamannya sendiri dengan bersumpah meyakinkan Isteriku bahwa aku, suaminya saat itu datang ke resepsi pernikahan bersama dia, Isterinya, malah foto-foto keluarga bersama, nanti bila sudah di-afdruk akan dikirim ke Bandung. Paman terpaksa bermalam di Bandung karena Isteriku sangat terpukul dan histeria dengan kejadian ini, masih belum masuk diakalnya kejadian ini bisa terjadi.

Keesokan harinya salah seorang putra paman datang dengan keluarga yang lainnya dan ikut meyakinkan isteriku dengan kesaksian mereka dan membawa hasil cetakan foto-foto perkawinan, mereka dengan sangat bingung memperlihatkan foto yang ada diriku, putriku Nanda sedang menggandeng bayangan kosong. Ternyata mahluk berwujud isteriku itu tidak nampak dikertas foto…….

Tiba-tiba isteriku terhuyung, dengan cepat kupeluk tubuhnya agar tidak jatuh, ternyata ia pingsan. Kejadian ini begitu dahsyat menghantam jiwanya hingga tidak tahan.

Mungkin terbayang difikirannya apa saja yang mungkin dilakukan oleh suaminya terhadap mahluk itu karena mengira bahwa mahluk itu adalah dia isterinya. Siapa yang tahu kecuali aku dan iih… mahluk yang menjijikan itu.

SIAPAKAH SESUNGGUHNYA YANG BERSAMAKU ITU DI JAKARTA ?

Hingga saat ini semua masih tak mengerti, siapakah sesungguhnya  wanita yang bersamaku itu, yang naik kemobilku mulai dari toko roti di Bogor, tidur dihotel bersamaku yang akhirnya terjun ke Telaga Warna ?. Demikian juga yang ada difikiran Isteriku dan keluarganya……….

Sedangkan Nanda masih sering bercerita kepada keluarga yang datang bahwa dirinya sangat senang diajak pergi jalan-jalan ke Jakarta bersama ibunya, menginap dihotel, pergi kepesta, ia masih belum bisa mengerti bahwa dengan siapa dia pergi itu bukan ibunya asli…………

Suatu malam aku bermimpi didatangi oleh mahluk hijau yang menyeramkan, berbadan reptil seperti bunglon tapi kepalanya menyerupai Isteriku, ia minta maaf telah mengacaukan keluargaku dengan mewujud dan menggantikan Isteriku pergi ke Jakarta. Itu karena dia tertarik mendengar celoteh Isteriku yang mesra ditepi telaga mengenai enaknya bepergian ke pesta pernikahan, jadi ia ikut dalam mobilku karena ingin tahu, begitu melihat Isteriku pergi masuk ke toko roti, ia mendapat kesempatan dan mendahului masuk kemobil dengan mewujud menyerupai Isteriku.

Mahluk itu bilang bahwa ia sangat menikmati perjalanan itu dan tidak akan pernah melupakannya, berharap demikian juga denganku. Akhirnya dia minta maaf atas segala perbuatannya itu dan juga minta maaf kepada Isteriku.

Hatiku yang tadinya emosi mendengar pengakuannya akhirnya luluh dan memaafkannya karena melihat tetesan air mata dipipinya tanda penyesalan dan ketulusan hatinya.

Mahluk itu kemudian lenyap setelah sebelumnya mendoakan agar keluargaku selalu rukun-rukun dan bahagia……

Melepas Ilmu Gaib untuk Ketenangan Hidup

Ardi  adalah anak seorang pengusaha kaya di bidang material bangunan di daerah Tangerang Selatan. Ayahnya beristri lagi dan ibunya dicerai. Dari pertama Ardi menentang apa yang dilakukan oleh ayahnya ini, namun hasilnya adalah dia malah diusir dari rumahnya karena dianggap berani menentang orang tuanya.

Dan pergilah Ardi ke ujung kota dan bersembunyi di dalam hutan Anggas Jagat Rumpin Bogor. Di sana Ardi menemukan guru spiritual yang bernama Eyang Gondowongso dan mempelajari ilmu Gagak Hitam. Sementara ibunya tidak tahu apa yang dilakukan oleh Ardi ini. Yang ibu nya tahu adalah Ardi sudah bunuh diri, karena kebetulan ditemukan mayat yang mengapung di Sungai Cisadane dengan sosok yang sangat mirip dengan phisik Ardi.

Dengan kondisi yang seperti ini maka Ardipun sudah dianggap mati oleh keluarga nya. Ayahnya pun nyata nyata tak peduli dengan hal ini karena masih sibuk mengurus istri mudanya yang umurnya masih 19 tahun. Ayahnya sibuk membelikan sebuah mobil buat istri muda nya yang dikenal sebagai Dona Arista seorang penyanyi dangdut yang sedang mulai naik daun. Tak hanya mobil. sebuah apartemen mewah pun dibelikan sebagai hadiah perkawinan mereka.

Sementara itu Ibu Ardi dan tiga adiknya dibiarkan terlantar, menempati sebuah rumah sederhana di pinggir desa. Bahkan ketiga adiknya ini terancam dikeluarkan dari sekolah karena tidak mampu membayar lagi iuran sekolah nya.

Ardi sendiri karena merasa dibuang oleh ayahnya semakin bersemangat mempelajari ilmu Gagak Hitam. Ilmu ini adalah kemampuan ilmu terbang, melompat tinggi, menembus tembok dan mampu meraibkan diri dari pandangan manusia. Ardi bertekad segera menguasai ilmu itu untuk membalas dendam pada ayahnya. Dalam pikiran nya adalah hanya bagaimana carany akan menghancurkan ayah nya tersebut, mengambil hartanya dan akan memberikan kepada ibunya.

Setelah tiga bulan berada dalam padepokan akhirnya Ardi sudah merasa siap , kemudian dia mengajak Takum teman baiknya bersekongkol. Takum sendiri dengan sukarela membantu keinginan Sahabatnya itu karena memang Takum sangat tahu Ardi itu seperti apa…

Takum sendiri bertugas menginformasikan kepada ibu Ardi bahwa Ardi masih hidup. “tapi jangan sampaikan kalau aku mempelajari ilmu beginian ya.. karena ibu pasti tidak suka” demikian pesan Ardi kepada Takum.

Takum menjalani tugas ini dengan senang karena menyampaikan berita bahagia ke ibu Tami, ibunya Ardi. dan benar saja.. Ibu Tami terlihat sangat gembira mendengar apa yang Takum sampaikan. Takum juga memperlihatkan foto yang sempet dia ambil saat bersama dengan Ardi sebagai buktinya. Sepertinya keluarga ini kembali menemukan matahari nya. adik adiknya menjadi semangat karena diberitahukan kakak nya masih hidup dan sudah bekerja sehingga mereka semua berharap Ardi bisa menyelesaikan persoalan ekonomi yang membelit keluarga tersebut.

Tugas pertama selesai, maka Ardi mulai melaksanakan niatnya. Dengan menggunakan mobil butut punya Takum mereka berdua parkir di luar komplek perumahan ayah Ardi. Ardi kemudian membacakan manteranya sambil memegang erat tangan Takum.. selanjutnya tubuh mereka terasa sangat enteng…dengan perlahan mereka mencoba lewat enam orang satpam yang dengan ketat menjaga masuk pintu komplek perumahan tersebut.

Ini adlaah pertama kalinya Ardi menggunakan ilmu tersebut. sedikit deg degan karena takut apa yang sudah dipelajarinya ternyata tidak berfungsi… Namun melihat ke enam satpam tersebut masih sibuk berjaga tanpa melihat keberadaan mereka berdua.. Ardi menjadi yakin bahwa ilmu dia ternyata telah berhasil.

Dengan penuh keyakinan Ardi dan Takum mencari rumah tinggal ayahnya dan ketika ditemukan dengan sekali hentakan mereka sudah berhasil masuk ke dalam halaman dan tanpa ragu mereka sudah berhasil menembus tembok rumah sang ayah…terlihat sang ayah sedang tidur bersama istri muda nya.

Ardi segera mengambil semua benda berharga yang tergeletak di mana mana. Handphone, cincin, jam tangan termasuk dompet sang ayah. Namun ada yang Ardi tidak ketahui. .. ternyata rumah ayahnya ini memelihara anjing hitam yang memang diyakini sangat mampu merasakan kehadiran yang “beda”. Dan benar saja dengan sekejab datang anjing tersebut dan menggonggong dengan sangat kencangnya. Ardi dan takum kaget.. mereka merasa terjebak sampai lupa bahwa mereka mempunyai ilmu yang maha komplit.. mereka berdua dengan bergandengan lari ke belakang masuk ke kamar mandi dan langsung membanting pintu untuk menutupnya..

Mendengar kegaduhan tersebut Ayah Ardi dan istrinya terbangun.. mereka langsung menekan tombol panik.. dan segera lah berdatangan para satpam ke rumah  tersebut.. untunglah.. Takum lebih cepat menguasai situasi.. sebelum mereka semua mendekat ke arah kamar mandi.. Takum segera berbisik ” ayo.. kamu bisa menembus dan terbang.. segera kamu baca manteranya ”

dan benar saja.. Ardi menjadi sadar dan segera membaca mantera nya.. saat pintu kamar mandi terbuka.. anjing dan satpam masuk. mereka hanya menemukan kamar mandi yang kosong saja..

Ardi dan Takum segera menuju mobil yang mereka parkir di luar komplek.. dan dengan tetap santai mereka menampakkan kembali wujudnya dan mengendarai mobil mereka pulang ke rumah Takum….

Esoknya semua barang barang tersebut dijual dan hasil penjualannya oleh Takum diberikan kepada ibunya Ardi. Mendapatkan uang yang sangat banyak tersebut Ibu Tami menangis.. “terimakasih nak.. bilangterimakasih ya ke Ardi. sampaikan.. kami kangen.. kami ingin bertemu dengan nya”

Takum menyampaikan pesan Ibu Tami tersebut kepada Ardi.. Ardi menjanjikan akan segera menemui ibunya.. namun  tunggu dulu sampai ayahku hancur.. begitu kata Ardi kepada Takum.

Malam selanjutnya Ardi menginginkan uang ayahnya yang di brangkas dihabiskan.. tapi kali ini dia lebih hati hati.. siang harinya sengaja dia menggunakan ilmunya hanya untuk berkeliling di rumah ayahnya.. dia memberikan obat tidur di antara daging yang sengaja dia lempar di dalam halaman rumah ayahnya.. dengan harapan.. daging daging tersebut akan dimakan oleh anjing hitam sang ayah.. sehingga malamnya ketika dia beroperasi anjing nya masih tertidur lelap…

Dan benar saja.. malam harinya ketika Ardi beroperasi menyantroni rumah ayahnya semua menjadi lebih lancar.. terlihat di halaman anjing sedang tertidur pulas.. Sengaja Ardi tidak membawa Takum ikut serta. Ardi kasihan melihat Takum  yang tidak bisa berlari dan berkeringat dingin saat dikejar anjing kemarin malam…

Operasi berjalan lancar.. Ayahnya kali ini sudah menyewa satpam pribadi yang duduk manis di depan gerbang rumah nya.. namun tentu saja hal ini bisa dilewati dengan mudah.. isi brangkas bisa disikat habis.. dan paginya uang tersebut oleh Ardi diberikan kepada Takum.. ” takum.. kamu ambil sebagian ya.. beli mobil yang lebih bagus.. agar tidak mogok kalau aku lagi nebeng ya.. : begitu canda Ardi pada Takum…

Dan sebagian besarnya dibawa  oleh Takum untuk diberikan kepada Ibunya Ardi…

Namun  tidak disangka.. ketika sampai di rumah ibu nya.. terlihat Ibunya Ardi sudah meninggal karena terkena serangan jantung..Takum segera menelpon Ardi untuk memberitakukan kondisi ini. Ardi menangis keras.. dan bergegas meninggalkan persembunyiannya untuk menengok jasad ibunya..

dengan isakan yang keras Ardi memeluk erat jasad ibunya.. berulang kali Ardi menyampaikan kata maaf .. bukan dia tidak mau menemui.. tapi terlebih karena dia ingin terlebih dahulu membalas kan sakit hati ibunya…

Saat ini Ardi merasa  hampa.. apa yang telah dia lakukan semata mata untuk membahagiakan ibunya.. namun sekarang ibunya telah tiada… Ardi merasa sia sia dengan apa yang telah dia lakukan…

Untunglah Takum adalah sahabat yang bener bener mengerti dan bisa diandalkan.. saat Ardi sedang goyah.. Takum mengambil posisi mengurus semua keperluan penguburan ibunda Ardi.. dan memutuskan untuk mengambil ketiga adik Ardi sebagai Adik angkat nya..

dan malam harinya… saat Ardi sedang termenung dan terdiam di halaman depan.. tiba tiba muncul bayangan yang menyerupai sang ibunda… bayang bayang tersebut seakan akan memberikan pesan. bahwa jika ingin membahagiakan ibu.. maka cukup dengan bahagiakan ketiga adik nya tersebut..

Ardi tersentak.. dan dia merasa sangat tahu langkah apa yang harus segera dia lakukan.. dia menengok ke dalam rumah .. terlihat Takum sedang tidur bersama ketiga adiknya… seketika perasaan nyaman dan tentram melihat kondisi tersebut… dan paginya Ardi pamitan kepada Takum kalau dia ingin melepaskan ilmu ghaib nya.. dia ingin hidup normal.. mereka sudah mempunyai sangat  banyak uang… mereka akan pergunakan dengan baik..

Dengan tersenyum Takum menyambut baik usulan Ardi tersebut… ” silakan Ardi.. jangan kuatir.. adikmu semua akan kujaga baik baik”

 

Pengantin Lelaki

Menjadi yang berbeda sepertinya selalu yang diinginkan sepasang pengantin yang ingin membuat photo pre wedding nya.

Cukup lama Dina berdiskusi dengan sang photographer sebelum memutuskan akan menggunakan konsep HANTU sebagai konsep photo preweddingnya.

Dipilihlah sebuah kawasan kuburan belanda yang sering dijadikan shooting film film sinetron sebagai lokasi pengambilan photo preweddingnya. Alasan nya selain memang terlihat dramatis bangunan nya juga kawasan kuburan ini jauh kotor dan tidak beraturan sehingga perasaan perasaan ngeri atau takut sangat bisa dihilangkan.

Minggu pagi ini.. cuaca cerah.. kondisi yang sangat bagus untuk dilakukan pemotretan. Dina dan Anto pun dari pagi sudah mempersiapkan diri untuk event yang mungkin hanya akan dilakukan sekali seumur hidup itu.

Sampai di lokasi makam. sudah terlihat sang photographer dan crew nya sibuk mempersiapkan perangkat photography nya.  Terlihat sang photographer memang sangat antusias. . sangat wajar karena konsep kali ini memang konsep yang unik. Dina berdandan ala kuntilanak sedangkan Anto berdandan ibarat vampire. Mungkin ini adalah pengalaman pertama juga bagi sang photographer melakukan sesi pemotretan dengan konsep seperti ini.

Setelah semua nya siap.. pemotretan pun dilakukan.. berbagai pose dilakukan .. berbagai jepretan juga sudah diluncurkan.. namun ketika di cek hasilnya…. kaget tidak ada satupun hasil yang bagus.. semua kabur atau gelap..

Photographer nya sampai bingung.. semua sudah di cek dan tidak ada kesalahan sedikitpun.. dan tidak terasa hari sudah menunjukkan pkl 12 siang. Akhirnya kami semua memutuskan untuk istirahat sambil menunggu photographer ini kembali cek perangkat nya..

Dina dan anto memutuskan untuk istirahat dulu dan membuka kostumnya mengingat cuaca hari ini sangat panas..

“mbak din.. mbak din.. bangun ” agak gelapakan dina terbangun… ternyata sang photographer yang membangunkan.  waktu sudah menunjukkan pkl 14.00. “ayo kita mulai photo lagi.. pasangan nya sudah siap tuh”

Agak heran juga Dina mendengar info dari sang photographer itu.. kenapa bukan calon suaminya yang membangunkan dia ?? tapi  karena  buru buru maka Dina melupakan semua keheranan itu..

Pemotretan kali ini berjalan sangat sempurna.. dan sang photographer pun terlihat antusias dan sangat puas.. “ternyata di sini cahayanya bagus kalau sore” demikian kata sang photographer.

Dina mengiyakan saja karena memang tidak paham soal photography. Sempat melihat ke Anto.. Anto ini terlihat sangat menghayati perannya hehehe.. diem.. pucat.. Dina sempet berpikir pasti dia akan ketakutan kalau ternyata dia harus berduaan dengan Anto di tempat seperti ini..

Setelah puas dengan hasil yang diperoleh.. kami pun bersiap siap untuk pulang.. photographer membereskan perlengkapannya .. Dina dan Anto pun juga melepas kostum mereka masing di tempat yang terpisah..

Waktu sudah hampir maghrib… kami sudah siap meninggalkan lokasi makam tersebut,.. namun Anto tidak terlihat muncul dari ruang ganti nya..

karena penasaaran dan takut terjadi hal yang tidak diinginkan maka kami menyusul Anto ke kamar mandi cowo tempat dia berganti pakaian…

Namun.. KOSONG !! kami panggil panggil tidak ada sahutan juga.. semua bingung… cemas.. suasana yang  tadinya riang mendadak menjadi mencekam… semua memanggil anto.. namun tidak ada jawaban juga..

Terdengar suara erangan cukup keras.. semua kaget dan segera berlari ke arah erangan tersebut…

Terlihat lah sosok Anto berada di atas sebuah makam .. kaki kirinya sepertinya terluka.. semua berusaha menolong dan membangunkan Anto… tiba tiba Anto berkomentar ” maaf jadi begini .. saya ketiduran.. dan tidak tahu kenapa sampai di sini.. photo nya diundur saja ya ”

Semua heran.. semua bingung.. namun salah satu crew sedikit berteriak sambil menunjuk batu nissan tempat di mana anto ditemukan terbaring..

tertulis nama ” ANTO SIHOBING”

di tengah keheranan dan ketakutan di mobil sang photographer kembali menunjukkan hasil photo nya.. dan photo yang tadi bagus dan ada pengantin pria nya.. sekarang menjadi hanya Dina sendiri saja..

 

 

 

Ulang Tahun ke 17

Kenalkan nama saya Ali, teman kampus saya lebih sering memanggil dengan sebutan El (plesetan dari ucapan Inggris Al). Kejadian ini terjadi tepatnya 5 tahun silam saat saya masih duduk di bangku SMA.

Saat itu sedang diadakan kegiatan penerimaan anggota baru, kegiatannya diadakan dua hari satu malam di dalam sekolah. Di sekolah saya setiap hari Sabtu hanya masuk sampai jam 9 saja, setelah itu ada kegiatan ektrakulikuler. Jadi setelah pulang sekolah kami melaksanakan kegiatan tersebut yang diteruskan hingga malam dan esok harinya (kami menginap di sekolah). Memang saat itu bertepatan dengan hari kelahiran saya. Sama seperti tahun-tahun yang lalu yang sering saya jalani, hari ulang tahun saya tidaklah saya anggap spesial. Tak ada acara yang spesial di keluarga saya pada hari ulang tahun. Dan saya memang tak pernah menanggapi dengan serius tentang hari ulang tahun saya yang ke-17.

Saya saat itu tak tahu kalau teman-teman saya mempersiapkan sebuah kejutan untuk saya. Saya orang yang jarang serius, senang bercanda dan selalu terlihat tenang, dan seharian itu waktu kegiatan itu saya jadi serba salah karena saya memang selalu disalahkan dalam kegiatan saat itu. Tapi saya menganggapnya enteng, tak menanggapi serius akan kemarahan teman-teman saya semua. Malam harinya merupakan puncak mereka mengerjai saya. Mereka benar-benar berusaha mengerjai saya, tapi entahlah… seolah-olah saya melihatnya mereka marah tak jelas alias nglantur, padahal saya tidak tahu kalau mereka mengerjai saya dan berusaha membuat saya merasa bersalah dan marah. Lalu saya ditarik oleh kakak pendamping kegiatan ke belakang sekolah. Disana saya dimarahi sendiri, diomeli macam-macam yang menurut saya sangatlah tidak bermutu.

Saya akui di saat saya dibawa ke belakang sekolah dan dimarahi habis-habisan, kemarahan saya mulai sedikit bergejolak (sebenarnya saya bersifat penenang, yang tak mudah tersulut emosi). Dalam omelan kakak pendamping itu saya masih berpikir jernih, saya jawab semua pertanyaannya, saya bantah semua dugaannya dan saya tunjukkan bukti-bukti. Dalam pikiran tenang itu saya sempat berpikir jika orang itu terus memarahi saya tanpa alasan yang jelas selama 30 menit, maka akan saya lempar batu ke kepalanya. Benar, saya sempat melirik kanan kiri memilih batu yang besar dan cukup kuat untuk saya lempar ke kepalanya. Memang saya masih bisa berpikir tenang, tetapi jika saya ditekan begitu terus padahal argumennya yang dibicarakan terhadap saya salah kaprah, maka saya siap membela diri. Ya karena melalui omongan selalu dibantah ya salah satunya harus menggunakan kekerasan. Maaf ya mas…

Tapi untungnya sebelum niat itu saya lakukan, tiba-tiba teman-teman saya datang dari balik gang laboratorium dengan membawa lilin dan membawa sebuah untaian bunga dan daun-daun kering sambil mengucapkan “Slamat ulang tahun… Happy birthday…”. Wawww… yang jelas saya kaget juga, dalam keluarga saya, kami tidak pernah merayakan ulang tahun, hari ulang tahun itu saya anggap seperti hari-hari biasanya, tak ada yang spesial. Ya mungkin satu dua yang kasih selamat pada saya dan mereka yang mengucapkan selamat kebanyakan malah teman-teman jauh alias bukan teman dekat. Memang saya jarang memberi tahu ulang tahun saya pada teman-teman, di jejaring sosial pun saya tidak menuliskan tanggal ulang tahun dengan benar, hanya bulannya saja yang saya tulis benar. Sedikit saya selewengkan tanggalnya menjadi 29 Februari dan tahunnya di tua kan menjadi 88.

Sambil membawa lilin dan menaruh untaian bunga dan daun kering sehingga membuat saya sangat jelek, mereka tertawa-tawa puas telah mengerjai saya. Yang ada di sana hanya panitia saja, sedangkan peserta sudah terlelap tidur. Lalu mereka menyuruh saya untuk meniup lilin-lilin yang mereka bawa yang banyak jumlahnya, yang sebenarnya untuk renungan malam pada pagi harinya. Lalu saya tiup satu persatu lilin-lilin itu hingga padam. Ketika lilin terahir akan saya tiup, seorang teman menyuruh saya untuk berdoa. Memang tidak ada tradisi tiup lilin di ulang tahun saya sebelumnya, jadi saya tak tahu kalau sebelum tiup lilin harus berdoa terlebih dahulu.

Setelah saya pikir-pikir, saya berdoa untuk keselamatan orang tua saya, kesuksesan saya, dan yang terakhir entah kenapa saya berdoa agar bisa melihat hantu/setan. Mungkin doa terakhir tersebut akibat selama seminggu itu saya sering mendengar cerita dari orang-orang yang sebelumnya telah melihat setan, yang akhirnya mengakibatkan saya penasaran apakah benar setan itu ada. Saya bukan orang yang percaya akan mahluk gaib, setan atau yang lainnya. Orang tua saya bilang kalau mereka memang ada tapi tak seharusnya mempercayainya, walaupun bapak, ibu dan kakak saya pernah melihatnya.

Singkat cerita, malam jam 2 kami mulai membangunkan peserta untuk renungan malam. Peserta kami bawa ke mushola sekolah. Disana akan diadakan sholat malam berjamaah. Musola kami berada di bangunan paling Timur, diantara kelas X-4 dan X-5. Dan di Timurnya adalah lapangan basket. Memang sebelumnya pernah ada kabar kalau di lapangan basket yang segaris dengan lapangan-lapangan lain (lompat jauh, tolak peluru, voli, dll) dan berujung dengan aula sekolah tersebut, ada tempat yang paling besar tekanan rohnya (kata teman saya dari SMA lain yang bisa merasakan hawa mahluk seperti itu). Tapi saya tak takut, karena pada saat pentas seni dulu saya dan teman-teman berkumpul di kelas X-5 yang posisinya tepat disamping lapangan basket (dulu saya duduk di kelas X-5 pada saat kejadian sudah duduk di bangku XI IPA).

Karena saya tak percaya akan adanya hantu dan sejenisnya, saya mengajak dua orang teman (cowok) untuk berjalan-jalan ke X-6 yang berada paling belakang (Selatan) sekolah karena menurut cerita di sekitar pohon pisang yang ada di sepanjang Selatan lapangan sering ada rasa aneh saat kesana. Jadi saya dan teman-teman saya yang tak mengikuti sholat malam karena dapat tugas jaga keamanan jalan-jalan ke belakang sekolah.

Memang di sekolah saya terdapat banyak pohon, mulai dari pisang sampai pohon jati dan mangga. Saat masih berjalan di koridor X-5, saya melihat seperti ada orang di samping pohon pisang yang berada di samping kelas X-6. Saat itu saya berpikir kalau itu orang pencari rumput. Maklum kalau musim hujan banyak rumput yang tumbuh tinggi di lahan-lahan yang tak dijadikan lantai semen, rumputnya pun tinggi-tinggi. Mungkin kalau orang yang pertama kali masuk sekolah kami ini akan berkata “ini sekolah apa sawah??” (seperti saya saat pertama kali masuk sekolahan ini), habisnya semua lapangan kecuali lapangan basket dan lapangan upacara tidak di pafing atau di semen.

Selain itu pada saat sholat ishak jam 10 malam saya memang bertemu dengan pencari rumput yang masuk ke sekolahan dan juga saya dan teman-teman saya berbincang banyak dengan bapak tersebut jadi saya masih berpikir kalau itu adalah pencari rumput. Saya lihat orang tersebut berdiri menghadap Timur, sikapnya seolah-olah sedang sholat tetapi menghadap Timur. Pakaiannya putih halus (tidak kusut) dan rapi. Saya tak begitu jelas melihat wajahnya karena sedikit terkena bayangan daun pisang, tapi saya dapat melihat dengan jelas lekukan hidung dan mulutnya. Kepalanya sedikit menunduk persis seperti orang sholat.

Hingga mendekati koridor kelas X-6 hati saya berasa tak enak, seolah-olah jantung saya bisa bicara, seolah-olah jantung saya berdetak dan berkata “Yang kau lihat itu bukan manusia!!!”. Tapi pikiran saya masih berkata kalau itu manusia. Selangkah kemudian jantung saya berdetak dengan cepat dan dia seolah-olah berkata lagi kalau yang saya lihat itu bukan manusia. Dua tiga langkah kemudian detak jantung saya seolah-olah makin keras dan saya tak tahu harus berkata apa, yang jelas perasaan yang tadinya tenang menjadi mencekam dan takut. Tapi otak saya masih berpikir kalau itu manusia bukan hantu/ setan. Sumpah… dalam pikiran saya yang saya lihat itu tetap manusia, hanya hati saya saja yang mengatakan itu adalah setan.

Otak saya pun berjalan dan mendapatkan ide untuk mengetahui yang sebenarnya, apakah yang saya lihat itu setan atau manusia. Saya yang berjalan di sebelah kiri lalu berpindah ke tengah kedua teman saya. Saya hentikan mereka berdua, saya rangkul keduanya mendekati saya. Saya bisikkan sebuah pertanyaan pada mereka.
“Kalian lihat orang di depan tidak?”, tanya saya.
“Orang siapa? Jangan nakut-nakuti kamu!!”, balas mereka.
“Itu yang pakai baju putih di samping pohon pisang di depan?”, kata saya memperjelas pandangan ke arah segerombol pohon pisang di depan kami.
“Alahhh… itu pohon pisang yang terkena lampu atau bayangannya yang seperti pohon”, jawab mereka ketus.
“Bukan, itu lo yang menghadap Timur?”, lebih saya perjelas lagi.
“Mana?”, balas mereka sambil penasaran.
“Beneran kalian tak melihatnya?”, tanya saya lagi. Dan mereka membalas dengan menggeleng.

Melihat jawaban mereka saya simpulkan kalau yang saya lihat itu bukan manusia tapi hantu. Bulu kuduk saya mulai berdiri, jantung berdebar-debar, rasa takutpun merajalela. Ketika kedua teman saya mau melanjutkan melangkah ke depan saya tarik mereka. Entah kenapa saya yang paling kecil di antara mereka berdua dapat sekuat tenaga menarik mereka, padahal mereka menarik saya kearah berlawanan. Rasa takut dan khawatir menjadikan saya semakin bingung mau berbuat apa. Sebagai panitia saya tak boleh membuat panik teman-teman saya apa lagi peserta. Tapi saya bingung harus berbuat apa, yang bisa saya lakukan hanya diam sambil merahasiakannya. Karena saya paksa, mereka ahirnya mengikuti saya. Selangkah menjauh dari si hantu saya melihat dia masih ada, dua langkah kemudian saya lihat belakang masih ada dan langkah ketiga saya lihat lagi barulah dia lenyap. Lenyap entah kemana, yang jelas saya sudah tak melihatnya lagi.

Kami kembali ke musola bersama teman-teman. Saya waktu itu langsung keringat dingin, wajah pucat dan nafas sedikit tersenggal-senggal. Kedua teman saya belum tahu apa yang terjadi, mereka tak curiga karena mereka berdua tak melihatnya. Lalu datanglah teman saya yang cewek yang sedang ambil kotak P3K karena ada peserta yang mengeluh sakit. Dia melihat saya dan memberi perhatian pada saya. “Ada apa El… kok pucat? Jangan-jangan kau lihat setan ya…?”, itu pertanyaanya dan langsung saya jawab dengan anggukan. Sebelum dia dan dua orang teman saya yang dari tadi bersama saya bicara, saya bilang pada mereka “Jangan bilang siapa-siapa, nanti kalau sudah pagi aja saya ceritakan”, jawab saya singkat dan dimengerti semuanya oleh teman saya.

Saat itu saya mendengar suara burung gagak, seolah-olah suara itu memperingatkan saya dan teman-teman saya. Saya dan teman-teman saya selaku panitia merahasiakannya pada peserta.
Menjelang subuh saat suara imsak, ketika peserta siap-siap sholat subuh dan panitia sedang rapat kegiatan pagi, saya melihat sekelebat bayangan. Itu memang sebuah bayangan karena sorotan lampu taman sekolah. Tapi anehnya bayangan itu menghilang di persimpangan ruang. Yang paling saya ingat bayangan itu seperti wanita yang rambutnya diikat kepang kuda. Kepangan rambutnya terlihat jelas pada bayangan hitam di tembok. Saat saya lihat ke belakang tak ada satupun orang yang ada di sana.

Setelah olah raga pagi, mulai lah pembicaraan. Pembicaraannya tentang yang saya lihat semalam. Sebenarnya saya tak mau membicarakan tetapi teman saya yang melihat saya pucat semalam memojokkan saya dan memaksa saya untuk menceritakan. Semuanya kaget, apa lagi kedua teman saya yang pergi bersama saya, keduanya sama sekali tak melihat apa-apa selain pohon pisang. Mengapa hanya saya saja yang melihatnya, mengapa kedua teman saya tak melihatnya padahal kita jalan bersama, berangkulan. Mengapa hanya saya saja yang melihat sosok putih itu yang tiba-tiba menghilang. Hingga kini saya tak tahu mengapa itu terjadi, yang jelas ternyata hanya saya saja yang melihat dan merasakan sosok putih yang seolah-olah sholat menghadap Timur dengan kepala merunduk. Saya yakin itu manusia karena saya melihat lekukan lipatan tangan, lekukan hidung dan mulut. Semuanya tak percaya, hingga peserta pun ikut bicara.

Kebanyakan peserta mengatakan kalau sebelum sholat malam tersebut mereka malihat kelelawar yang sangat besar terbang menembus jaring pembatas lapangan basket. Kalian tahukan jaring kawat di pinggir lapangan yang bertujuan agar bola tidak keluar jauh. Nah jaring yang tak bisa tembus bola tenis sekalipun tiba-tiba tembus oleh kelelawar yang sangat besar. Menurut cerita mereka selain itu dari kelas X-4 kebanyakan peserta melihat burung, entah burung apa yang menembus masuk ke ruang kelas itu tepat di jendela kaca.

Mungkin ini kado dari Tuhan atas doa saya lewat lilin terahir. Doa agar bisa melihat setan telah terkabul. Sampai sekarang saya masih merasakan ketegangan saat itu. Dan mulai saat itu saya tahu saya tak boleh berdoa sembarangan apalagi doa yang jelek.